WhatsApp
Bakteri Untuk Ipal Limbah Tahu Dan Tempe

Bakteri Untuk IPAL Limbah Tahu Dan Tempe - Solusi Limbah 

 

Industri tahu dan tempe merupakan salah satu usaha pangan yang banyak berkembang di Indonesia. Proses produksinya relatif sederhana dan dapat dilakukan dalam skala rumah tangga hingga industri besar. Namun, di balik tingginya kebutuhan masyarakat terhadap tahu dan tempe, terdapat persoalan lingkungan yang perlu diperhatikan, yaitu limbah cair hasil proses produksi.

Limbah tahu dan tempe mengandung bahan organik yang cukup tinggi. Apabila limbah tersebut langsung dibuang ke lingkungan tanpa pengolahan yang tepat, kualitas air dapat menurun, menimbulkan bau tidak sedap, serta mengganggu kehidupan organisme di dalam perairan. Oleh karena itu, diperlukan Instalasi Pengolahan Air Limbah atau IPAL yang mampu mengolah limbah sebelum dibuang atau dimanfaatkan kembali sesuai ketentuan yang berlaku.

Salah satu bagian penting dalam pengolahan IPAL limbah tahu dan tempe adalah penggunaan bakteri pengurai. Bakteri berperan dalam menguraikan bahan-bahan organik yang terdapat di dalam air limbah melalui proses biologis. Dengan pengelolaan yang tepat, proses biologis tersebut dapat membantu menurunkan beban pencemar sehingga air hasil olahan menjadi lebih baik.

Dalam penerapannya, penggunaan bakteri untuk IPAL tidak dapat dipisahkan dari kondisi sistem pengolahan. Jenis limbah, beban organik, pH, suhu, kadar oksigen, waktu tinggal, serta desain bak pengolahan dapat memengaruhi kinerja bakteri. Karena itu, pemilihan bakteri dan pengoperasian IPAL harus dilakukan secara tepat agar proses pengolahan berjalan optimal.

Salah satu produk yang dapat digunakan dalam pembahasan pengolahan limbah secara biologis adalah AQUAR AWWTP. Produk ini dapat menjadi bagian dari solusi pengolahan air limbah dengan memanfaatkan proses biologis untuk membantu menguraikan kandungan organik dalam air limbah.

 

Bakteri Untuk Air Limbah Industri Makanan Kaleng (2)


 

Pengertian Bakteri Untuk IPAL Limbah Tahu dan Tempe

Bakteri untuk IPAL limbah tahu dan tempe adalah mikroorganisme yang dimanfaatkan dalam proses pengolahan air limbah secara biologis. Mikroorganisme tersebut membantu memecah senyawa organik menjadi senyawa yang lebih sederhana melalui aktivitas metabolisme.

Pada limbah tahu dan tempe, bahan organik dapat berasal dari sisa bahan baku, protein, karbohidrat, lemak, padatan organik, serta berbagai senyawa yang terbawa bersama air selama proses produksi.

Ketika air limbah masuk ke dalam unit biologis IPAL, bakteri akan memanfaatkan sebagian bahan organik tersebut sebagai sumber makanan dan energi. Aktivitas mikroorganisme kemudian membantu mengurangi kandungan organik di dalam air.

Proses ini berbeda dengan pengolahan secara fisik yang hanya memisahkan padatan atau kotoran tertentu. Pengolahan biologis bekerja dengan memanfaatkan aktivitas mikroorganisme untuk menguraikan bahan pencemar yang bersifat biodegradable.

Dalam sistem IPAL, bakteri dapat berkembang secara alami apabila kondisi lingkungan mendukung. Namun, pada kondisi tertentu, penambahan bakteri atau biostarter dapat digunakan untuk membantu membangun dan mempertahankan populasi mikroorganisme yang dibutuhkan dalam proses pengolahan.

Dengan demikian, bakteri bukan sekadar bahan tambahan dalam IPAL, tetapi merupakan bagian penting dari proses biologis yang dapat menentukan keberhasilan penguraian bahan organik.

 

Karakteristik Limbah Cair Tahu dan Tempe

Limbah cair industri tahu dan tempe memiliki karakteristik yang berbeda-beda tergantung bahan baku, kapasitas produksi, metode produksi, jumlah air yang digunakan, serta pengelolaan limbah di lokasi produksi.

Pada industri tahu, air limbah dapat berasal dari proses pencucian kedelai, perendaman, perebusan, pemisahan sari kedelai, penyaringan, pencetakan, serta pencucian peralatan produksi.

Sementara itu, pada produksi tempe, limbah dapat berasal dari proses pencucian, perendaman, perebusan, pengupasan, serta pencucian peralatan.

Salah satu karakteristik penting dari limbah tersebut adalah tingginya kandungan bahan organik. Bahan organik yang tinggi dapat menyebabkan kebutuhan oksigen untuk proses penguraian menjadi besar. Hal tersebut biasanya tercermin dari parameter seperti BOD dan COD.

Jika air limbah dengan kandungan organik tinggi masuk langsung ke badan air, mikroorganisme di lingkungan dapat menggunakan oksigen terlarut untuk menguraikan bahan organik tersebut. Akibatnya, kadar oksigen di dalam air dapat menurun dan berpotensi mengganggu organisme perairan.

Limbah yang tidak diolah juga dapat menimbulkan masalah bau. Penguraian bahan organik dalam kondisi kekurangan oksigen dapat menghasilkan senyawa yang berbau. Karena itu, pengolahan limbah sejak dari sumbernya menjadi langkah penting bagi industri tahu dan tempe.

 

Peran Bakteri dalam Pengolahan IPAL

Bakteri memiliki peran utama dalam unit pengolahan biologis. Pada kondisi yang sesuai, mikroorganisme dapat memanfaatkan bahan organik sebagai sumber nutrisi.

Secara sederhana, prosesnya dapat digambarkan sebagai berikut:

Air limbah  masuk ke unit biologis  bakteri menguraikan bahan organik → bahan organik berkurang  kualitas air hasil pengolahan meningkat.

Dalam sistem aerobik, bakteri membutuhkan oksigen untuk melakukan proses metabolisme. Oksigen biasanya diberikan melalui aerator atau sistem difusi udara.

Pada sistem anaerobik, proses berlangsung dengan kondisi tanpa oksigen terlarut. Kelompok mikroorganisme yang berbeda akan berperan dalam menguraikan bahan organik melalui beberapa tahapan.

IPAL yang baik dapat menggunakan satu atau beberapa tahapan pengolahan sesuai karakteristik limbah. Pemilihan sistem harus mempertimbangkan kapasitas produksi, debit limbah, konsentrasi pencemar, ketersediaan lahan, biaya operasional, serta target kualitas air hasil pengolahan.

 

Manfaat Bakteri untuk IPAL Limbah Tahu dan Tempe

Penggunaan bakteri dalam proses biologis IPAL memiliki sejumlah manfaat apabila diterapkan pada sistem yang sesuai.

Membantu Menguraikan Bahan Organik

Manfaat utama bakteri adalah membantu menguraikan bahan organik yang terdapat dalam air limbah. Limbah tahu dan tempe memiliki kandungan organik yang relatif tinggi sehingga proses biologis menjadi salah satu bagian penting dalam pengolahannya.

Membantu Menurunkan Beban Pencemar

Aktivitas mikroorganisme dapat membantu mengurangi beban organik yang terdapat dalam air limbah. Efektivitasnya bergantung pada kondisi operasional IPAL dan karakteristik limbah.

Membantu Mengurangi Bau

Limbah organik yang tidak dikelola dengan baik dapat mengalami pembusukan dan menghasilkan bau. Pengolahan biologis yang berjalan dengan baik dapat membantu mengendalikan bahan organik penyebab bau.

Namun, penghilangan bau tidak hanya bergantung pada bakteri. Aerasi, desain bak, waktu tinggal, pengendalian lumpur, serta kondisi keseluruhan IPAL juga sangat berpengaruh.

Membantu Menjaga Stabilitas Proses Biologis

Populasi mikroorganisme yang sesuai dapat membantu menjaga proses biologis tetap berjalan. Hal ini penting terutama pada IPAL yang menerima beban limbah secara rutin.

Mendukung Pengolahan Limbah Secara Lebih Efisien

Bakteri dapat membantu proses pengolahan secara biologis tanpa harus mengandalkan proses kimia secara berlebihan. Meski demikian, kebutuhan bahan kimia tetap bergantung pada desain dan sistem IPAL yang digunakan.

 

Kegunaan Bakteri dalam IPAL Tahu dan Tempe

Bakteri dapat digunakan pada bagian IPAL yang memang dirancang untuk proses biologis. Salah satu unit yang umum ditemukan adalah bak aerasi atau biological treatment tank.

Pada unit tersebut, air limbah dipertemukan dengan mikroorganisme dalam kondisi yang dikendalikan. Untuk sistem aerobik, aerator memasok oksigen sehingga bakteri aerob dapat melakukan aktivitas penguraian.

Bakteri juga dapat digunakan untuk membantu proses penguraian pada sistem biofilter. Dalam sistem ini, mikroorganisme dapat tumbuh pada media tertentu dan membentuk lapisan biofilm. Air limbah kemudian melewati media tersebut sehingga bahan organik dapat diuraikan oleh mikroorganisme.

Pada kondisi tertentu, bakteri juga dapat digunakan untuk membantu pemulihan proses biologis ketika populasi mikroorganisme mengalami penurunan. Contohnya setelah IPAL mengalami gangguan operasional, menerima beban limbah yang berubah secara signifikan, atau mengalami kondisi yang menyebabkan aktivitas biologis menurun.

Namun, penambahan bakteri sebaiknya tidak dianggap sebagai satu-satunya solusi. Jika akar permasalahannya adalah kapasitas IPAL yang terlalu kecil, aerasi tidak mencukupi, pH tidak sesuai, atau waktu tinggal terlalu singkat, penambahan bakteri saja tidak akan menyelesaikan masalah secara permanen.

 

Cara Kerja Bakteri pada IPAL Limbah Tahu dan Tempe

Cara kerja bakteri dalam IPAL pada dasarnya berkaitan dengan metabolisme mikroorganisme terhadap senyawa organik.

Ketika bakteri berada pada lingkungan yang sesuai, mikroorganisme akan menggunakan bahan organik sebagai sumber makanan. Senyawa organik yang kompleks kemudian mengalami proses penguraian menjadi senyawa yang lebih sederhana.

Dalam pengolahan aerobik, keberadaan oksigen menjadi salah satu faktor penting. Aerasi yang memadai memungkinkan mikroorganisme aerob bekerja dengan lebih baik.

Proses biologis juga menghasilkan biomassa atau lumpur biologis. Biomassa tersebut merupakan kumpulan mikroorganisme dan material lain yang terbentuk selama pengolahan. Karena itu, pengelolaan lumpur menjadi bagian penting dari operasional IPAL.

Kinerja bakteri juga dipengaruhi oleh pH. Kondisi yang terlalu asam atau terlalu basa dapat menghambat aktivitas mikroorganisme. Limbah industri tahu dan tempe juga dapat mengalami perubahan karakteristik dari waktu ke waktu sehingga pemantauan kondisi IPAL diperlukan.

Faktor yang Memengaruhi Kinerja Bakteri IPAL

Bakteri membutuhkan lingkungan yang sesuai agar dapat bekerja secara optimal. Beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan adalah

pH

pH berpengaruh terhadap aktivitas mikroorganisme. Perubahan pH yang ekstrem dapat menyebabkan proses biologis terganggu.

Suhu

Suhu memengaruhi aktivitas metabolisme mikroorganisme. Perubahan suhu yang signifikan dapat menyebabkan laju proses biologis berubah.

Oksigen

Pada IPAL aerobik, oksigen merupakan faktor yang sangat penting. Kekurangan oksigen dapat menurunkan aktivitas bakteri aerob.

Beban Organik

Jumlah bahan organik yang masuk ke IPAL harus disesuaikan dengan kapasitas pengolahan. Beban yang terlalu tinggi dapat menyebabkan sistem biologis mengalami tekanan.

Waktu Tinggal

Mikroorganisme membutuhkan waktu untuk melakukan proses penguraian. Jika air limbah terlalu cepat melewati unit biologis, proses pengolahan dapat menjadi kurang optimal.

Nutrisi

Mikroorganisme membutuhkan nutrisi untuk pertumbuhan. Komposisi air limbah perlu diperhatikan agar kondisi biologis mendukung perkembangan mikroorganisme.

Populasi Mikroorganisme

Jumlah dan jenis mikroorganisme dalam unit biologis juga menentukan kinerja pengolahan. Sistem yang stabil biasanya memiliki komunitas mikroorganisme yang mampu beradaptasi terhadap karakteristik limbah.

AQUAR AWWTP untuk Pengolahan Limbah

AQUAR AWWTP merupakan produk yang dapat digunakan sebagai bagian dari pendekatan pengolahan air limbah secara biologis. Dalam penerapan pada limbah tahu dan tempe, produk seperti ini diarahkan untuk membantu proses penguraian bahan organik melalui aktivitas mikroorganisme.

Penggunaan AQUAR AWWTP tetap perlu disesuaikan dengan kondisi IPAL yang digunakan. Setiap industri memiliki karakteristik limbah yang berbeda sehingga kebutuhan pengolahan tidak selalu sama.

IPAL dengan sistem biologis membutuhkan kondisi lingkungan yang mendukung aktivitas mikroorganisme. Oleh sebab itu, penggunaan produk bakteri sebaiknya disertai dengan pengoperasian aerator, pengaturan debit, pengendalian pH, pemeliharaan bak biologis, serta pemantauan kualitas air.

Dengan pendekatan tersebut, AQUAR AWWTP dapat ditempatkan sebagai salah satu bagian dari sistem pengolahan, bukan sebagai pengganti seluruh unit IPAL.

 

Keunggulan Penggunaan AQUAR AWWTP

Dalam pengolahan limbah tahu dan tempe, penggunaan produk bakteri seperti AQUAR AWWTP memiliki tujuan utama untuk mendukung proses biologis.

Produk bakteri dapat membantu menyediakan mikroorganisme yang dibutuhkan dalam proses penguraian. Hal ini dapat bermanfaat bagi sistem yang membutuhkan dukungan mikrobiologis, terutama ketika proses biologis belum stabil.

Keberhasilan penggunaan tetap bergantung pada kondisi aktual IPAL. Produk bakteri yang baik akan bekerja lebih optimal apabila kondisi lingkungan mendukung pertumbuhan dan aktivitas mikroorganisme.

Oleh karena itu, penggunaan AQUAR AWWTP sebaiknya dipandang sebagai bagian dari strategi pengolahan limbah yang terintegrasi.

 

Bakteri Untuk Air Limbah Industri Makanan Kaleng


Informasi Selengkapnya Klik Disini

 

Cara Penggunaan Bakteri pada IPAL

Penggunaan bakteri pada IPAL harus mengikuti petunjuk produk dan kondisi sistem pengolahan. Dosis tidak dapat disamaratakan untuk semua industri karena kapasitas dan karakteristik limbah berbeda.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum aplikasi adalah kapasitas IPAL, debit harian, karakteristik limbah, kondisi bak biologis, sistem aerasi, serta kualitas air hasil pengolahan.

Jika produk bakteri akan digunakan pada IPAL yang sudah berjalan, kondisi sistem sebaiknya diperiksa terlebih dahulu. Jangan sampai bakteri ditambahkan secara berlebihan sementara masalah sebenarnya terdapat pada aerasi atau kapasitas unit pengolahan.

Pada tahap awal aplikasi, pemantauan dapat dilakukan secara berkala untuk melihat perubahan kondisi air limbah, bau, lumpur biologis, serta parameter kualitas air yang relevan.

Dosis dan frekuensi penggunaan AQUAR AWWTP sebaiknya mengikuti rekomendasi teknis produk atau hasil evaluasi kondisi IPAL di lapangan.

 

Tahapan Pengolahan Limbah Tahu dan Tempe

Pengolahan limbah cair tahu dan tempe umumnya tidak cukup hanya dengan satu proses. Sistem IPAL dapat terdiri dari beberapa tahapan yang saling mendukung.

Tahap pertama biasanya berupa pengolahan awal atau pretreatment. Pada tahap ini, benda-benda berukuran besar dan material tertentu dipisahkan agar tidak mengganggu unit berikutnya.

Selanjutnya, air limbah dapat masuk ke bak ekualisasi. Fungsi bak ini adalah membantu menstabilkan debit dan karakteristik limbah sebelum masuk ke proses pengolahan berikutnya.

Setelah itu, air limbah dapat masuk ke unit biologis. Pada tahap inilah bakteri memiliki peran penting dalam menguraikan bahan organik.

Sistem biologis dapat berupa proses lumpur aktif, biofilter, atau teknologi biologis lainnya. Pemilihannya tergantung desain IPAL dan karakteristik limbah.

Tahap selanjutnya dapat berupa sedimentasi untuk memisahkan biomassa atau padatan dari air. Air hasil pengolahan kemudian dapat menjalani tahap lanjutan sesuai kebutuhan sebelum dibuang sesuai ketentuan.

Setiap unit memiliki fungsi masing-masing. Karena itu, penggunaan bakteri harus ditempatkan pada unit yang sesuai agar dapat bekerja secara efektif.

 

Mengapa IPAL Tahu dan Tempe Membutuhkan Pengolahan Biologis?

Tingginya bahan organik membuat proses biologis menjadi bagian yang penting dalam pengolahan limbah tahu dan tempe.

Jika hanya mengandalkan penyaringan fisik, sebagian besar bahan organik terlarut tetap berada di dalam air. Sementara itu, proses biologis dapat membantu menguraikan bahan organik tersebut.

Pengolahan biologis juga dapat dirancang untuk bekerja secara berkelanjutan sehingga sesuai dengan karakteristik industri yang menghasilkan limbah setiap hari.

Dalam penerapan di lapangan, desain IPAL harus mempertimbangkan kondisi produksi. Industri yang beroperasi sepanjang hari tentu memiliki kebutuhan pengolahan berbeda dibandingkan usaha yang hanya berproduksi beberapa jam.

 

Masalah yang Sering Terjadi pada IPAL Limbah Tahu dan Tempe

Salah satu masalah yang sering muncul adalah bau. Bau dapat terjadi ketika proses penguraian bahan organik tidak berlangsung secara optimal atau terdapat kondisi anaerobik yang tidak diinginkan pada unit tertentu.

Masalah lainnya adalah lumpur biologis yang terlalu banyak atau terlalu sedikit. Kondisi tersebut dapat menunjukkan adanya ketidakseimbangan dalam sistem biologis.

Air hasil pengolahan yang masih keruh juga dapat menjadi indikasi bahwa proses sedimentasi atau pengolahan biologis belum berjalan dengan baik.

Selain itu, beban limbah yang berubah secara tiba-tiba dapat mengganggu populasi mikroorganisme. Penggunaan bahan pembersih tertentu juga dapat memengaruhi aktivitas bakteri apabila masuk ke dalam sistem dalam jumlah besar.

Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu dilakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap IPAL. Penambahan bakteri dapat menjadi salah satu tindakan pendukung, tetapi penyebab utama gangguan harus tetap dicari.

 

Tips Memaksimalkan Bakteri IPAL

Agar bakteri dapat bekerja dengan baik, beberapa hal penting perlu diperhatikan.

Pertama, pastikan aerasi pada sistem aerobik berjalan dengan baik. Bakteri aerob membutuhkan oksigen sehingga aerator yang tidak bekerja optimal dapat memengaruhi proses biologis.

Kedua, perhatikan pH air limbah. Kondisi yang terlalu ekstrem dapat menghambat aktivitas mikroorganisme.

Ketiga, hindari perubahan beban limbah yang terlalu drastis apabila dapat dikendalikan. Bak ekualisasi dapat membantu meratakan perubahan karakteristik limbah.

Keempat, lakukan pemeliharaan IPAL secara rutin. Aerator, pompa, pipa, diffuser, media biofilter, dan unit sedimentasi perlu diperiksa.

Kelima, gunakan produk bakteri sesuai kebutuhan dan petunjuk penggunaan. Penggunaan dalam jumlah berlebihan tidak otomatis membuat proses pengolahan menjadi lebih cepat.

Keenam, lakukan pengujian kualitas air secara berkala. Parameter seperti pH, BOD, COD, TSS, dan parameter lain yang dipersyaratkan dapat membantu mengetahui kinerja IPAL.

 

Pentingnya Perawatan IPAL

IPAL bukan sistem yang cukup dipasang kemudian dibiarkan bekerja sendiri. Sistem pengolahan membutuhkan pemeliharaan agar setiap unit dapat menjalankan fungsinya.

Aerator perlu diperiksa agar pasokan oksigen tetap tersedia. Pipa dan diffuser harus dijaga agar tidak tersumbat. Lumpur yang terakumulasi juga perlu dikelola sesuai prosedur.

Jika IPAL menggunakan media biofilter, kondisi media perlu diperhatikan. Media yang tertutup oleh padatan berlebihan dapat menghambat aliran air dan mengurangi efektivitas proses.

Perawatan yang konsisten akan membantu menjaga kestabilan proses biologis dan mengurangi risiko penurunan kualitas air hasil pengolahan.

 

Hubungan Bakteri dengan BOD dan COD

BOD dan COD merupakan parameter penting dalam menilai kandungan beban organik pada air limbah.

BOD menggambarkan kebutuhan oksigen biologis untuk menguraikan bahan organik biodegradable, sedangkan COD menggambarkan kebutuhan oksigen secara kimia untuk mengoksidasi senyawa yang dapat dioksidasi.

Pada limbah tahu dan tempe, nilai BOD dan COD dapat relatif tinggi karena adanya kandungan bahan organik dari proses produksi.

Pengolahan biologis bertujuan membantu menurunkan beban organik tersebut. Ketika bakteri menguraikan bahan organik, kandungan pencemar yang dapat diolah secara biologis dapat berkurang.

Namun, hasil akhirnya harus dibuktikan melalui pengujian laboratorium. Perubahan warna, bau, atau kejernihan saja tidak cukup untuk memastikan bahwa air limbah telah memenuhi baku mutu.

 

AQUAR AWWTP sebagai Bagian dari Solusi Pengolahan Limbah

Pengelolaan limbah industri tahu dan tempe membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Penggunaan AQUAR AWWTP dapat menjadi salah satu bagian dalam mendukung proses biologis IPAL.

Produk bakteri akan bekerja di dalam sistem yang memiliki kondisi sesuai untuk pertumbuhan mikroorganisme. Karena itu, keberhasilan pengolahan tetap dipengaruhi oleh desain IPAL, sistem aerasi, waktu tinggal, beban organik, pH, suhu, dan pengelolaan lumpur.

Bagi industri tahu dan tempe, pendekatan tersebut penting karena karakteristik limbah dapat berubah mengikuti kapasitas produksi. IPAL harus mampu menangani kondisi tersebut secara konsisten.

Dengan penggunaan yang tepat, bakteri dapat membantu proses biologis sehingga pengolahan limbah menjadi lebih terarah. AQUAR AWWTP dapat dipertimbangkan sebagai salah satu produk pendukung dalam pengelolaan IPAL limbah tahu dan tempe.

 

Bakteri Untuk Air Limbah Industri Makanan Kaleng (1)


Kesimpulan

Bakteri untuk IPAL limbah tahu dan tempe memiliki peran penting dalam proses pengolahan air limbah secara biologis. Kandungan bahan organik yang tinggi pada limbah produksi tahu dan tempe membuat proses penguraian biologis menjadi salah satu bagian utama dalam sistem IPAL. Bakteri bekerja dengan memanfaatkan bahan organik sebagai sumber makanan dan energi. Melalui aktivitas mikroorganisme, bahan organik dapat diuraikan sehingga beban pencemar dalam air limbah dapat dikurangi.

Namun, efektivitas bakteri tidak hanya ditentukan oleh jenis atau jumlah bakteri yang digunakan. Kondisi IPAL seperti pH, suhu, oksigen, beban organik, waktu tinggal, nutrisi, serta kondisi lumpur biologis harus mendukung aktivitas mikroorganisme. AQUAR AWWTP dapat digunakan sebagai salah satu bagian dari solusi biologis untuk membantu proses pengolahan limbah. Penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi dan kapasitas IPAL serta mengikuti petunjuk teknis produk.

 

 

❱❱ Konsultasikan Keperluan Anda Terkait Produk Aquar Sekarang juga!

Butuh informasi lebih lanjut atau ingin melakukan pemesanan?
 

Info kontak konsultan aquar wwtp 0813-3535-329

Pergudangan LMC, Jl. Raya Cikaret No.91, Pabuaran, Kec. Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16916, Indonesia.

HOME BRAND AQUAR-1